BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Palembang merupakan kota tertua di Indonesia,
umurnya diperkirakan sejak adanya kerajaan Sriwijaya pada 16 Juni 682 Masehi.
Selain kerajaan Sriwijaya, di Palembang juga berdiri Kesultanan Palembang
Darussalam, yang mencapai masa puncaknya bersama penyebaran ajaran Islam, di
nusantara. Sebelum berdiri Kesultanan Palembang Darussalam, telah berdiri
kerajaan Palembang,
dari Kiyai Gede Sedo Ing Lautan hingga Pangeran Sedo Ing Rejek. Saat itu, Palembang menjadi wilayah
kekuasaan Denmak, dan Mataram. Baru di masa Pangeran Ario Kesumo, Palembang memutuskan
hubungan dengan Mataram.
Pangeran Ario Kesumo mendirikan
Kesultanan Palembang Darussalam. Sebagai sultan pertama, dia bergelar Sultan
Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayyidul Iman, yang memerintah dari tahun 1659
- 1706. Dalam tahun 1703, beliau menobatkan seorang puteranya anak dari Ratu
Agung sebagai Raja Palembang Darussalam yang kedua dengan gelar Sultan Muhammad
Mansur Jayo Ing Lago (1706 - 1714). Dalam tahun 1709 Sultan Muhammad Mansur
menobatkan puteranya yang sulung, Raden Abubakar, menjadi Pangeran Ratu
Purboyo. Pewaris mahkota ini tidak sempat menjadi raja karena wafat teraniaya.
Sultan Muhammad Mansur digantikan oleh adiknya
(sesuai dengan wasiatnya) bernama Raden Uju yang kemudian dinobatkan menjadi
Sultan Palembang Darussalam yang ketiga, bergelar Sultan Agung Komaruddin Sri
Truno (1714 - 1724).
Kemudian beliau digantikan oleh
kemenakannya Jayo Wikramo dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo
Wirokramo, yaitu Sultan Palembang Darussalam yang keempat memerintah dari tahun
1724 - 1758. Sultan Palembang Darussalam yang kelima adalah Pangeran Adikesumo,
putera kedua dari Sultan Mahmud Badaruddin I, adik dari Raden Jailani Pangeran
Ratu yang wafat kena amuk, dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin I, dan
memerintah dari tahun 1758 - 1776.
Sultan Ahmad Najamuddin I digantikan
putera mahkota yang setelah dinobatkan menjadi Sultan Palembang Darussalam
bergelar Sultan Muhammad Bahaudin. Raja ini memerintah dari tahun 1776 - 1803.
Raja yang keenam ini wafat pada hari Isnen tanggal 21 Zulhijjah tahun 1218 H.
Waktu Asyar (3 April 1803). Sultan Muhammad Bahauddin digantikan putera
sulungnya, Raden Hasan Pangeran Ratu dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin II,
sebagai Sultan Palembang Darussalam yang ke tujuh dan memerintah dari tahun
1803 - 1821. Baru sewindu memegang tampuk pemerintahan, datanglah Inggris
menyerbu Palembang
(1811).
Sultan Mahmud Badaruddin II hijrah
kepedalaman meneruskan perang gerilya, setelah mewakilkan pemerintahan
Kesultanan kepada adiknya Pangeran Adipati dengan gelar Sultan Mudo. Inggris
mengakui sebagai raja Palembang
dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin II (Susuhunan Husin Dhiauddin), memerintah
dari tahun 1812 - 1813. Pada tahun 1813, Sultan Mahmud Badaruddin II kembali ke
Palembang,
memegang tampuk pemerintahan Kesultanan (1813 - 1821). Saat itu, Sultan Mahmud
Badaruddin II menobatkan putera sulungnya menjadi raja dengan gelar Sultan
Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu (1819 - 1821), kemudian Sultan Mahmud Badaruddin
bergelar Susuhunan.
Setelah Sultan Mahmud Badaruddin II
diasingkan (1821) beliau digantikan putera sulung Sultan Ahmad Najamuddin II
(Susuhunan Bahauddin) bernama Raden Ahmad dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin
Prabu Anom (1821 - 1823). Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom juga melakukan
perlawanan terhadap Belanda. Dia ditangkap kemudian dibuang ke Banda, lalu ke Manado. Sampai saat ini
makamnya belum ditemukan. Lantaran seringnya para Sultan Palembang melakukan
perlawanan, tahun 1825, Belanda akhirnya membubarkan Kesultanan Palembang
Darussalam.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini
adalah:
1. Jelaskan Latar Belakang
Terjadinya Kesultanan Palembang
?
2. Jelaskan Silsilah Kesultanan Palembang ?
3. Jelaskan Bagaimana Sistem Pemerintahan
Kesultanan Palembang
?
1.3 Tujuan
Adapun
tujuan dari makalah ini adalah:
- Agar mengetahui latar belakang kesultanan Palembang
- Agar mengetahui silsilah kesultanan Palembang
- Agar mengetahui sistem pemerintahan kesultanan Palembang
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Latar
Belakang Munculnya Kesultanan Palembang
Sejarah mengenai Kesultanan Palembang dapat dimulai
pada pertengahan abad ke-15 pada masa hidupnya seorang tokoh bernama Ario
Dillah atau Ario Damar. Beliau adalah seorang putera dari raja Majapahit yang
terakhir, yang mewakili kerajaan Majapahit bergelar Adipati Ario Damar yang
berkuasa antara tahun 1455-1486 di Palembang Lamo, yang sekarang ini letaknya
di kawasan 1 ilir. Pada saat kedatangan Ario Damar ke Palembang, penduduk dan
rakyat Palembang sudah banyak yang memeluk agama Islam dan Adipati Ario Damar
pun mungkin kemudian memeluk agama Islam, konon namanya berubah menjadi Ario
Abdillah atau Ario Dillah.
Ario Dillah mendapat hadiah dari
Raja Majapahit terakhir Prabu Kertabumi Brawijaya V salah seorang isterinya
keturunan Cina yang telah memeluk Islam dan dibuatkan istana untuk Puteri. Pada
saat putri ini diboyong ke Palembang
ia sedang mengandung, kemudian lahir anaknya yang bernama Raden Fatah. Raden
Fatah ini lahir di istana Ario Dillah di kawasan Palembang lama (1 ilir), tempat itu dahulu
dinamakan Candi ing Laras,
yaitu sekarang terletak di antara PUSRI I dan PUSRI II. Raden Fatah dipelihara
dan dididik oleh Ario Dillah menurut agama Islam dan menjadi seorang ulama
Islam. Sementara itu hasil perkawinan Ario Dillah dengan putri Cina tersebut,
lahir Raden Kusen yaitu adik Raden Fatah namun bapanya berbeda.
Setelah kerajaan Majapahit bubar
karena desakan kerajaan-kerajaan Islam, Sunan Ngampel, sebagai wakil Walisongo,
mengangkat Raden Fatah menjadi penguasa seluruh Jawa, menggantikan ayahnya.
Pusat kerajaan Jawa dipindahkan ke Denmak. Atas bantuan dari daerah-daerah
lainnya yang sudah lepas dari Majapahit seperti Jepara, Tuban, Gresik, Raden
Fatah mendirikan Kerajaan Islam dengan Denmak sebagai pusatnya (kira-kira tahun
1481). Raden Fatah memperoleh gelar Senapati Jimbun Ngabdu’r-Rahman Panembahan
Palembang Sayidin Panata’Gama.
2.1.1
Hubungan Palembang dengan Demak
Raja Kerajaan Denmak Raden Fatah
wafat tahun 1518 dan digantikan puteranya Pati-Unus atau Pangeran Sabrang Lor
yang wafat tahun 1521, kemudian digantikan saudara Pati-Unus yaitu Pangeran
Trenggono yang wafat pada tahun 1546 (makam-makam mereka ada di halaman Mesjid
Denmak). Setelah Pangeran Trenggono wafat terjadi perebutan kekuasaan antara
saudaranya (Pangeran Seda ing Lepen) dan anaknya (Pangeran Prawata). Pangeran
Seda ing Lepen akhirnya dibunuh oleh Pangeran Prawata. Kemudian Pangeran
Prawata beserta keluarganya dibunuh pada tahun 1549 oleh anak Pangeran Seda ing
Lepen yang bernama Arya Penangsang atau Arya Jipang.
Demikian juga menantu Raden Trenggono yang
bernama Pangeran Kalinyamat dari Jepara juga dibunuh. Arya Penangsang sendiri
dibunuh oleh Adiwijaya juga seorang menantu Pangeran Trenggono atau terkenal
dengan sebutan Jaka Tingkir
yang menjabat Adipati penguasa Pajang. Akhirnya Keraton Denmak dipindah oleh
Jaka Tingkir ke Pajang dan habislah riwayat Kerajaan Denmak. Kerajaan Denmak
hanya berumur 65 tahun yaitu dari tahun 1481 sampai 1546. Dalam kemelut yang
terjadi atas penyerangan Demak oleh Pajang ini, berpindahlah 24 orang keturunan
Pangeran Trenggono (atau Keturunan Raden Fatah) dari kerajaan Demak ke
Palembang, dipimpin oleh Ki Gede Sedo ing Lautan yang datang melalui Surabaya
ke Palembang dan membuat kekuatan baru dengan mendirikan Kerajaan Palembang, yang kemudian
menurunkan raja-raja, atau sultan-sultan Palembang.
Keraton pertamanya di Kuto Gawang, pada saat ini situsnya
tepat berada di kompleks PT. Pusri, Palembang.
Dari bentuk keraton Jawa di tepi sungai Musi, para penguasanya beradaptasi
dengan lingkungan melayu di sekitarnya. Terjadilah suatu akulturasi dan
asimilasi kebudayaan jawa dan melayu, yang dikenal sebagai kebudayaan Palembang.
2.1.2
Hubungan Palembang dengan Mataram
Pindahnya pusat kerajaan Jawa dari
Demak ke Pajang menimbulkan pergolakan baru setelah wafatnya Jaka Tingkir.
Pajang yang diperintah Arya Pangiri diserang oleh gabungan dua kekuatan, dari
Pangeran Benowo (putra Jaka Tingkir yang tersingkir) dan kekuatan Mataram
(dipimpin Panembahan Senapati atau Senapati Mataram, putra Kyai Ageng Pemanahan
atau Kyai Gede Mataram). Akhirnya Arya Pangiri menyerah kepada Senapati Mataram
dan Kraton Pajang dipindahkan ke Mataram (1587) dan mulailah sejarah Kerajaan Jawa Mataram. Senapati
Mataram sendiri merupakan keturunan Raden Fatah dan Raden Trenggono yang masih
meneruskan dinastinya di Jawa, sehingga dapat dipahami eratnya pertalian antara
Palembang dan
Mataram pada masa itu, yang terus berlanjut hingga masa pemerintahan Raja
Amangkurat I (silsilah raja yang keempat).
Sampai akhir 1677 Palembang masih setia kepada Mataram yang
dianggap sebagai pelindungnya, terutama dari serangan kerajaan Banten. Sultan
Muhammad (1580 – 1596) dari Kesultanan Banten pada tahun 1596 pernah menyerbu
Palembang (diperintah Pangeran Madi Angsoko) dengan membawa 990 armada perahu,
yang berakhir dengan kekalahan Banten dan wafatnya Sultan Muhammad. Penyerbuan
ini dilakukan atas anjuran Pangeran Mas, putra Arya Pangiri dari Denmak. Tetapi
tidak lama kemudian terdapat golongan yang ingin memisahkan diri dari ikatan
dengan Jawa khususnya generasi mudanya. Sementara itu kekuasaan raja-raja
Mataram juga berangsur berkurang karena makin bertambahnya ikut campur
kekuasaan VOC Belanda di Mataram, sehingga dengan demikian kekuasaan dan
hubungan dengan daerah-daerah seberang termasuk Palembang juga merenggang.
2.1.3
Hubungan Palembang dengan VOC
Palembang yang semula merupakan bagian dari kekuasaan
Mataram mulai mengadakan hubungan dengan VOC, dengan demikian timbul kecurigaan
dari penguasa Mataram dan dampaknya adalah makin renggangnya hubungan Palembang dengan Mataram.
Kontak pertama Palembang
dengan VOC pada tahun 1610. Pada awalnya VOC tidak banyak berhubungan dengan
penguasa Palembang, selain saingan dari Inggris dan Portugis serta Cina, juga sikap
penguasa Palembang yang tidak memberikan kesempatan banyak kepada VOC. VOC
menganggap penguasa Palembang terlalu sombong dan menurut VOC hanya dengan
kekerasan senjatalah kesombongan Palembang dapat dikurangi, sebaliknya
Palembang tidak mudah digertak begitu saja.
Semasa pemerintahan Pangeran Sideng Kenayan yang
didampingi istrinya Ratu Sinuhun di
Palembang dan Gubernur Jendral di Batavia Jacob Specx (1629-1632) telah dibuka
Kantor perwakilan Dagang VOC (Factorij)
di Palembang. Kontrak ditanda tangani tahun 1642, tetapi pelaksanaanya baru
pada tahun 1662. Anthonij Boeij sejak tahun 1655 ditunjuk sebagai wakil
pedagang VOC di Palembang dan sementara tetap tinggal di kapal karena belum
punya tempat (loji) di darat. VOC sendiri telah sejak tahun 1619 ingin
mendirikan loji (kantor) dan
gudang di Palembang.
Pembangunan loji dari batu mengalami kesulitan karena pada saat yang sama
didirikan bangunan-bangunan antara lain kraton di Beringin Janggut, Masjid
Agung dan lain lainnya.
Mula-mula loji didirikan di atas
rakit, kemudian bangunan dari kayu yang letaknya di 10 Ulu sekarang diatas
sebuah pulau yang dikelilingi sungai Musi, sungai Aur, sungai Lumpur serta
sambungan dari sungai Tembok. Bangunan permanen dari batu baru dibuat pada
tahun 1742. Tindak-tanduk mereka ini tidak menyenangkan orang Palembang karena antara lain ia menyita
sebuah jung Cina bermuatan lada. Kemudian VOC menggantikannya dengan Cornelis
Ockerz (dijuluki — si Kapitein Panjang) yang tadinya dicadangkan untuk jadi
perwakilan di Jambi. Ockerz datang dua kali di bulan Juni 1658 ke Palembang yang terakhir ia
menahan beberapa kapal diantaranya milik putra mahkota Mataram. Terjadi
bentrokan yang kemudian dapat didamaikan. Pada tanggal 22 Agustus 1658 beberapa
bangsawan Palembang (Putri Ratu Emas, Tumenggung Bagus Kuning Pangkulu,
Pangeran Mangkubumi Nembing Kapal, Kiai Demang Kecek) naik ke atas kapal yacht
Belanda, yang bernama Jacatra dan
de Wachter, dan membunuh Ockerz
beserta 42 orang Belanda lainnya serta menawan 28 orang Belanda. Peristiwa ini
disebabkan karena kecurangan-kecurangan serta kelicikan orang-orang Belanda
termasuk Ockerz.
Kemudian untuk membalas tindakan
orang Palembang ini Belanda mengirimkan armadanya yang dipimpin Laksamana Johan
Van der Laen dan pada tanggal 24 November 1659 membakar habis kota dan istana
Sultan di Kota Gawang (1 llir). Pangeran Mangkurat Seda ing Rajek akhirnya
menyingkir ke Indralaya (makamnya di Saka Tiga)
2.2 Silisilah
Kesultanan Palembang

Sultan Mahmud Badaruddin II adalah pemimpin kesultanan
Palembang-Darussalam (1803-1819), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan
Mahmud Badaruddin. Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin
pertempuran melawan Britania dan Belanda, diantaranya yang disebut Perang
Menteng. Tahun 1821, ketika Belanda secara resmi berkuasa di Palembang,
Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap dan diasingkan ke Ternate.
2.2.1 Konflik dengan Britania
Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad
ke-18, Palembang
dan wilayahnya menjadi incaran Britania dan Belanda. Berdalih menjalin kontrak
dagang, bangsa Eropa ini berniat menguasai Palembang. Awal bercokolnya penjajahan bangsa
Eropa biasanya ditandai dengan penempatan loji (kantor dagang). Di Palembang,
loji pertama Belanda dibangun pada tahun 1742 di tepi Sungai Aur (10 Ulu). Orang
Eropa pertama yang dihadapi Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah Sir
Thomas Stamford Raffles. Raffles tahu persis tabiat Sultan Palembang ini.
Karena itu, Raffles sangat menaruh hormat di samping ada
kekhawatiran sebagaimana tertuang dalam laporan kepada atasannya, Lord Minto,
tanggal 15 Desember 1810: “Sultan Palembang adalah salah seorang pangeran
Melayu yang terkaya dan benar apa yang dikatakan bahwa gudangnya penuh dengan
dollar dan emas yang telah ditimbun oleh para leluhurnya. Saya anggap inilah
yang merupakan satu pokok yang penting untuk menghalangi Daendels memanfaatkan
pengadaan sumber yang besar tersebut.”
Bersamaan dengan adanya kontak antara Britania dan Palembang, hal yang sama
juga dilakukan Belanda. Dalam hal ini, melalui utusannya, Raffles berusaha
membujuk SMB II untuk mengusir Belanda dari Palembang
(surat Raffles
tanggal 3 Maret 1811). Dengan bijaksana, SMB II membalas surat
Raffles yang intinya mengatakan bahwa Palembang
tidak ingin terlibat dalam permusuhan antara Britania dan Belanda, serta tidak
ada niatan bekerja sama dengan Belanda. Namun akhirnya terjalin kerja sama
Britania-Palembang, di mana pihak Palembang
lebih diuntungkan.
Pada 14 September 1811, terjadi peristiwa
pembumihangusan dan pembantaian di loji Sungai Alur. Belanda menuduh
Britanialah yang memprovokasi Palembang
supaya mengusir Belanda. Sebaliknya, Britania cuci tangan, bahkan langsung
menuduh SMB II yang berinisiatif melakukannya. Raffles terpojok dengan
peristiwa loji Sungai Aur, tetapi masih berharap dapat berunding dengan SMB II
dan mendapatkan Bangka sebagai kompensasi
kepada Britania. Harapan Raffles ini tentu saja ditolak SMB II. Akibatnya,
Britania mengirimkan armada perangnya di bawah pimpinan Gillespie dengan alasan
menghukum SMB II. Dalam sebuah pertempuran singkat, Palembang berhasil dikuasai dan SMB II
menyingkir ke Muara Rawas, jauh di hulu Sungai Musi.
Setelah berhasil menduduki Palembang, Britania merasa perlu mengangkat
penguasa boneka yang baru. Setelah menandatangani perjanjian dengan
syarat-syarat yang menguntungkan Britania, tanggal 14 Mei 1812 Pangeran Adipati
(adik kandung SMB II) diangkat menjadi sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin II
atau Husin Diauddin. Pulau Bangka berhasil dikuasai dan namanya diganti menjadi
Duke of York’s Island. Di Mentok, yang
kemudian dinamakan Minto, ditempatkan Meares sebagai residen. Meares berambisi
menangkap SMB II yang telah membuat kubu di Muara Rawas. Pada 28 Agustus 1812
ia membawa pasukan dan persenjataan yang diangkut dengan perahu untuk menyerbu
Muara Rawas.
Dalam sebuah pertempuran di Buay Langu, Meares tertembak
dan akhirnya tewas setelah dibawa kembali ke Mentok. Kedudukannya digantikan
oleh Mayor Robison. Belajar dari pengalaman Meares, Robison mau berdamai dengan
SMB II. Melalui serangkaian perundingan, SMB II kembali ke Palembang dan naik
takhta kembali pada 13 Juli 1813 hingga dilengserkan kembali pada Agustus 1813.
Sementara itu, Robison dipecat dan ditahan Raffles karena mandat yang
diberikannya tidak sesuai.
2.2.2 Konflik dengan Belanda
Konvensi London 13 Agustus 1814 membuat Britania
menyerahkan kembali kepada Belanda semua koloninya di seberang lautan sejak
Januari 1803. Kebijakan ini tidak menyenangkan Raffles karena harus menyerahkan
Palembang
kepada Belanda. Serah terima terjadi pada 19 Agustus 1816 setelah tertunda dua
tahun, itu pun setelah Raffles digantikan oleh John Fendall. Belanda kemudian
mengangkat Edelheer Mutinghe sebagai komisaris di Palembang. Tindakan pertama yang dilakukannya
adalah mendamaikan kedua sultan, SMB II dan Husin Diauddin. Tindakannya
berhasil, SMB II berhasil naik takhta kembali pada 7 Juni 1818. Sementara itu,
Husin Diauddin yang pernah bersekutu dengan Britania berhasil dibujuk oleh
Mutinghe ke Batavia
dan akhirnya dibuang ke Cianjur. Pada dasarnya pemerintah kolonial Belanda
tidak percaya kepada raja-raja Melayu. Mutinghe mengujinya dengan melakukan
penjajakan ke pedalaman wilayah Kesultanan Palembang dengan alasan inspeksi dan
inventarisasi daerah.
Ternyata di daerah Muara Rawas ia dan pasukannya
diserang pengikut SMB II yang masih setia. Sekembalinya ke Palembang, ia menuntut agar Putra Mahkota
diserahkan kepadanya. Ini dimaksudkan sebagai jaminan kesetiaan sultan kepada
Belanda. Bertepatan dengan habisnya waktu ultimatum Mutinghe untuk penyerahan
Putra Mahkota, SMB mulai menyerang Belanda. Pertempuran melawan Belanda yang
dikenal sebagai Perang Menteng (dari kata Mutinghe) pecah pada 12 Juni 1819.
Perang ini merupakan perang paling dahsyat pada waktu itu, di mana korban
terbanyak ada pada pihak Belanda. Pertempuran berlanjut hingga keesokan hari,
tetapi pertahanan Palembang tetap sulit
ditembus, sampai akhirnya Mutinghe kembali ke Batavia tanpa membawa kemenangan.
Belanda tidak
menerima kenyataan itu. Gubernur Jenderal Van der Capellen merundingkannya
dengan Laksamana JC Wolterbeek dan Mayjen Herman Merkus de Kock dan diputuskan
mengirimkan ekspedisi ke Palembang
dengan kekuatan dilipatgandakan. Tujuannya melengserkan dan menghukum SMB II,
kemudian mengangkat keponakannya (Pangeran Jayaningrat) sebagai penggantinya. SMB
II telah memperhitungkan akan ada serangan balik. Karena itu, ia menyiapkan
sistem perbentengan yang tangguh. Di beberapa tempat di Sungai Musi, sebelum
masuk Palembang,
dibuat benteng-benteng pertahanan yang dikomandani keluarga sultan. Kelak,
benteng-benteng ini sangat berperan dalam pertahanan Palembang. Pertempuran sungai dimulai pada
tanggal 21 Oktober 1819 oleh Belanda dengan tembakan atas perintah Wolterbeek.
Serangan ini disambut dengan tembakan-tembakan meriam dari tepi Musi.
Pertempuran baru berlangsung satu hari, Wolterbeek
menghentikan penyerangan dan akhirnya kembali ke Batavia pada 30 Oktober 1819. SMB II masih
memperhitungkan dan mempersiapkan diri akan adanya serangan balasan. Persiapan
pertama adalah restrukturisasi dalam pemerintahan. Putra Mahkota, Pangeran
Ratu, pada Desember 1819 diangkat sebagai sultan dengan gelar Ahmad Najamuddin
III. SMB II lengser dan bergelar susuhunan. Penanggung jawab benteng-benteng
dirotasi, tetapi masih dalam lingkungan keluarga sultan. Setelah melalui
penggarapan bangsawan dan orang Arab Palembang melalui pekerjaan spionase,
serta persiapan angkatan perang yang kuat, Belanda datang ke Palembang dengan kekuatan yang lebih besar.
Tanggal 16 Mei 1821 armada Belanda sudah memasuki perairan Musi. Kontak senjata
pertama terjadi pada 11 Juni 1821 hingga menghebatnya pertempuran pada 20 Juni
1821.
Pada pertempuran 20 Juni ini, sekali lagi, Belanda
mengalami kekalahan. De Kock tidak memutuskan untuk kembali ke Batavia, melainkan mengatur
strategi penyerangan. Bulan Juni 1821 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.
Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk
beribadah. De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya
untuk tidak menyerang pada hari Jumat dengan harapan SMB II juga tidak
menyerang pada hari Minggu. Pada waktu dini hari Minggu 24 Juni, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba
menyerang Palembang.
Serangan dadakan ini tentu saja melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang
Belanda tidak menyerang.
Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal 25 Juni
1821 Palembang
jatuh ke tangan Belanda. Kemudian pada 1 Juli 1821 berkibarlah bendera rod,
wit, en blau di bastion Kuto Besak, maka resmilah kolonialisme Hindia Belanda
di Palembang. Tanggal 13 Juli 1821, menjelang tengah malam, SMB II beserta
keluarganya menaiki kapal Dageraad dengan tujuan Batavia. Dari Batavia SMB II dan keluarganya
diasingkan ke Ternate sampai akhir hayatnya 26 September 1852.
2.3 Pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II
Kesultanan Palembang mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin
II. Di dalam melawan penjajahan Belanda dan Inggris, Sultan
Mahmud Baruddin II berhasil mengatasi politik diplomasi dan peperangan kedua
bangsa tersebut. Sebelum jatuhnya Palembang dalam peperangan besar di tahun
1821, Sultan Mahmud Badaruddin II secara beruntun pada tahun 1819 telah dua
kali mengahajar pasukan pasukan Belanda keluar dari perairan Palembang. Keperkasaan
Sultan Mahmud Badaruddin II ini dinilai oleh Pemerintah Republik Indonesia
adalah wajar untuk dianugrahi sebagai Pahlawan Nasional.
>Ada beberapa catatan
sejarah yang terjadi di masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II.
» Peristiwa Loji Sungai Aur (1811)
Hubungan perdagangan antara
Belanda/VOC dengan Palembang
sudah terjalin sejak permulaan abad ke-17, terutama menyangkut komoditi lada
dan timah. Pada permulaan abad ke-19 terjadi perebutan kekuasaan di Nusantara
antara Inggris dan Belanda. Peristiwa ini adalah dalam rangka perang yang
terjadi di Eropa antara Inggris dan Perancis semasa kekuasaan Napoleon
Bonaparte. geri Belanda menjadi bagian dari Perancis yaitu Bataafse Republik,
oleh karena itu milik Belanda yang ada di Nusantara pun direbut oleh Inggris.
Terjadi penyerbuan tentara Inggris yang berpangkalan di Malaka dan Penang ke Batavia/Jawa pada bulan Agustus 1811, kemudian
penyerahan kekuasaan Belanda kepada Inggris tanggal 18-9-1811 di desa Tuntang,
Jawa Tengah.
Mengetahui hilangnya kekuasaan
Belanda setelah penyerbuan ke Batavia bulan Agustus 1811 tersebut, pada tanggal
14 September
1811 Sultan Mahmud Badaruddin II meminta Residen Belanda
beserta pasukannya meninggalkan loji. la mula-mula menolaknya, kemudian 87
orang digiring naik ke kapal pada hari itu, rupanya mereka mengadakan
perlawanan, oleh karena itu sampai di muara Sungsang mereka dibunuh semuanya
dan kapal ditenggelamkan. Peristiwa ini dikenal dengan “penyembelihan massal”
(Palembang Massacre). Belanda menuding Raffles
(Penguasa Inggris di Indonesia) sebagai biang keladinya karena menghasut Sultan
melakukan itu, tetapi Raffles menolaknya dan menuduh Mahmud Badaruddin II yang
bertanggung jawab mengenai hal ini.
Seminggu setelah pengusiran Belanda
dari loji sungai Aur, maka loji tersebut dibakar habis serta dibongkar sampai
fondasinya. Rupanya Sultan tidak ingin melihat adanya monumen Belanda yang
masih tersisa meskipun hanya puing-puingnya.
» Penyerbuan Inggris ke Palembang tahun 1812
Hubungan Sultan Mahmud Badaruddin II
dengan Raffles cukup baik sebelum takluknya Belanda dari Inggris. Tindakan
Sultan yang menolak pembicaraan menyangkut timah Bangka dan tidak memberi
kesempatan meninjau loji sungai Aur yang telah rata dengan tanah, dan
pembunuhan orang-orang Belanda yang dianggap tak bermoral, merupakan alasan Raffles (penguasa
Inggris di Indonesia) untuk mengirim sebuah ekspedisi militer di bawah Mayor Jendral Gillespie
dari Batavia tanggal 20 Maret 1812. Sultan dengan pasukannya telah bersiap-siap
menyambut ekspedisi tersebut dengan memperkuat kubu-kubu pertahanannya di
sepanjang sungai Musi, dengan kubu-kubu meriam terapung, perahu-perahu
bersenjata, rakit-rakit berisi bahan yang mudah terbakar untuk menghambat
kedatangan armada Inggris serta di pusat pertahanannya di keraton (sekarang
Benteng) dengan 242 pucuk meriam siap menghadapi musuh.
Tetapi karena pengkhianatan adiknya
sendiri (Pangeran Adipati Najamuddin = Husin Dhiauddin) dan lebih unggulnya
persenjataan musuh maka dalam waktu seminggu Palembang jatuh (24 April 1812).
Sultan Mahmud Badaruddin II menyingkir ke pedalaman dengan membawa segala
perlengkapan kerajaan dan hartanya. Gillespie menduduki kraton pada 25 April 1812
dan keesokan harinya bendera Inggris dikibarkan didalam Kraton. Adik Sultan
(Najamuddin II) dinobatkan oleh Inggris dan harus menandatangani perjanjian
pada 12 Mei
1812 yang isinya antara lain penyerahan Bangka dan Belitung kepada Inggris.
Kapten
Meares yang diangkat sebagai Residen Inggris ditugaskan
mengejar Sultan Mahmud Badaruddin II dan terjadi pertempuran di Bailangu dengan
kekalahan pihak Inggris, Meares tertembak dan akhirnya meninggal. Untuk
mempertahankan posisinya Sultan mendirikan kubu-kubu pertahanan di Muara Rawas
dan daerah-daerah pedalaman dengan demikian Sultan tidak dapat ditaklukkan.
Pengganti Kapten Meares yaitu Mayor Robison
yang bertugas di Palembang
mulai 13
Februari 1813. Ia rupanya agak kurang sependapat dengan
kebijaksanaan Raffles, dan mengadakan perundingan dengan utusan S.M.B. II
karena melihat beberapa pertimbangan sebagai berikut: Ketidak becusan
Najamuddin II dan ketidak kepastian bantuan darinya, serta rakyat Palembang
masih menghendaki kembalinya S.M.B. II (yang berakibat negeri Palembang dalam keadaan
anarki). Perjanjian
Muara Rawas pun dibuat pada 29 Juni 1813, yang menyatakan
S.M.B. II dapat kembali ke Palembang
dengan imbalan 200.000 dollar kepada pemerintah Inggris. Tanggal 13 Juli 1813
S.M.B. II kembali ke Palembang
dan duduklah dia sebagai Sultan yang berdaulat. Tindakan Robison ini tentu saja
tidak disetujui Raffles karena mengangkat kembali Sultan yang sudah dipecat
Raffles.
Raffles mengirimkan sebuah komisi yang dipimpin Kapten George Elliot
disertai pengganti Robison, M.H.Court, serta Mayor W.Colebrooke dan Letkol Mc.Gregor
yang membawa 400 pasukan Eropa, yang mulai berangkat pada 7 Agustus 1813.
Robison diberitahu bahwa segala tindakannya tidak dapat diterima dan ia dipecat
kemudian ditahan. (Kemudian hari setelah ia bebas, ia mengadukan kepada
penguasa Inggris di India dan di Inggris mengenai tindakan-tindakan Raffles yang
tercela). Komisi tersebut memecat S.M.B. II setelah hanya sebulan bertahta dan
mengangkat kembali Ahmad Najamuddin sebagai Sultan Palembang. Perdamaian antara Inggris dan
Perancis di Eropa setelah jatuhnya Napoleon mempengaruhi politik di Nusantara. Perjanjian London
13 Agustus 1814 menetapkan bahwa Inggris harus menyerahkan kembali kepada
Belanda semua koloninya di seberang lautan yang didudukinya sejak 1803.
Kebijaksanaan pemerintah Inggris ini
kurang dapat tanggapan yang baik dari Raffles. Baru kemudian pada 29 Juni 1817
koloni Belanda di Nusantara dikembalikan setelah Raffles digantikan John Fendall.
Raffles menetap di Bengkulu sebagai Residen Inggris. Komisaris (Residen)
Belanda di Palembang ditunjuk Mutinghe.
» Perang Palembang I (1819)
Setelah kembalinya Belanda di
Palembang, Mutinghe menonaktifkan Najamuddin II (Husin Dhiauddin)
dan mengangkat kembali S.M.B. II. Husin Dhiauddin tidak senang dengan perlakuan
ini dan mengadu kepada Raffles di Bengkulu. Raffles mengirimkan ekspedisi
kira-kira 300 tentaranya ke Palembang
melalui jalan darat. Terjadi insiden di Palembang,
namun tentara pelopor Inggris yang ada di Palembang
diusir oleh tentara Belanda, dikembalikan lewat laut ke Bengkulu. Selanjutnya
Mutinghe memburu sisa tentara Inggris di Muara Beliti dan terjadi pertempuran
di sana yang
berakhir dengan perdamaian. Dengan adanya insiden ini maka Dhiauddin diasingkan
ke Betawi dan Cianjur beserta para keluarganya.
Ketika Mutinghe kembali ke kota, ia diserang oleh pengikut-pengikut Badaruddin II,
sehingga ia cepat-cepat mundur ke Palembang.
Mutinghe menuduh Badaruddin II bertanggung jawab atas serangan
pengikut-pengikutnya di pedalaman. Setelah mendaratkan tambahan 209 pasukan
Belanda dari Jakarta,
Mutinghe mengultimatum Badaruddin II untuk menyerahkan putra sulungnya sebagai
jaminan. Hal ini menyebabkan kemarahan Badaruddin II. Terjadi pertempuran
tanggal 11 –
15 Juni 1819 (istilah Palembang “Perang Menteng”) antara
pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II yang bertahan di Kraton (Benteng) dan
pasukan Belanda di Kraton Lama dan di beberapa kapal perang. Pasukan Mutinghe
dapat dihancurkan, dari semula 500 orang pasukan tinggal 350, Mutinghe bersama
sisa pasukan ini lari ke Batavia.
» Perang Palembang II (1819)
Kekalahan Belanda bulan Juni 1819
tersebut sangat menyakitkan Belanda. Gubernur Jendral Van der Capellen
bersama Panglima Angkatan Laut Laksamana Wolterbeek dan Panglima
Angkatan Darat Mayjen De Kock merencanakan penyerbuan kembali ke Palembang. Dengan
kira-kira 20 kapal perang dan 1500 tentara, pasukan Belanda berangkat dari
Batavia (Jakarta) tanggal 22 Agustus 1819. Pada tanggal 30 Agustus 1819
mereka tiba di Mentok, di Bangka sebagian pasukan ini membantu memerangi
perjuangan rakyat Bangka, dengan korban cukup
banyak. Jika waktu penyerbuan Inggris tahun 1812 konsentrasi kekuatan Palembang
dipusatkan di pulau Borang dan Pulau Salah Nama, tetapi dengan
pengalaman pahit menghadapi Inggris tersebut maka pusat pertahanan dirubah.
Kali ini pertahanan ditempatkan
sepanjang sungai Musi dengan penempatan meriam-meriam untuk
mengganggu perjalanan armada Belanda. Konsentrasi dipusatkan di sekitar Plaju dan pulau Kembaro
(Pulau Kemaro) dengan beberapa benteng yang diperlengkapi dengan ratusan
meriam. Panglima perangnya adalah Putra mahkota (Pangeran Ratu, kemudian bergelar
Najamuddin III). Dalam armada yang menyerbu ke Palembang ini beberapa
anggota keluarga Husin Dhiauddin ikut diatas kapal membantu Belanda menunjukkan
jalan.
Selanjutnya antara 18 September dan 30
Oktober 1819 terjadi pertempuran sepanjang sungai Musi dan di
Palembang dengan hasil pasukan Belanda dipukul mundur dengan korban kira-kira
500 orang, sepertiga dari seluruh kekuatan semula. Dalam pelayaran mundur
armada Belanda, tanggal 3 dan 4 November 1819 telah sampai di Sungsang lalu
menyebrang ke Mentok. Ini merupakan kekalahan kedua dari Mutinghe. Dua
minggu setelah armada Belanda meninggalkan Bangka ke Batavia, Residen Bangka Smissaert
dipenggal kepalanya oleh para pejuang pimpinan Dipati Bahrin dan
dipersembahkan kepada Badaruddin II sebagai tanda keberanian dan loyalitas
pejuang Bangka.
Kemenangan Palembang dirayakan oleh
rakyat dengan luapan kegembiraan. Pada bulan Desember 1819 Pangeran Ratu
dinobatkan menjadi Sultan Ahmad Najamuddin III, menggantikan ayahnya.
Sedangkan Mahmud
Badaruddin II menjadi Susuhunan. Pasukan dari armada Wolterbeek
sesampai di Mentok dibagi tiga, satu bagian yang luka-luka kembali ke Batavia, satu bagian
bersama Wolterbeek berlayar ke kepulauan Riau. Satu bagian lagi membantu
penumpasan perjuangan rakyat Bangka. Komandan
tentara Belanda di Bangka dipimpin Letnan Keer.
Pertempuran terbesar antara lain terjadi di Toboali. Para pemimpin di Bangka saat itu antara lain Raden Keling
dan Raden
Badar. Pertempuran di Bangka baru padam 1821.
» Perang Palembang III (1821)
Kekalahan pada perang-perang
sebelumnya, menjadi perhatian serius bagi pihak Kerajaan Belanda dan pemerintah
kolonial Belanda di Batavia. Mereka pun membuat suatu perencanaan yang lebih
matang untuk menundukkan Palembang.
Langkah ditempuh dengan mempersiapkan pasukan yang lebih kuat dan siasat memecah belah
kerabat Kesultanan. Alur-alur pelayaran utama dari/ke Palembang diblokade angkatan laut Belanda.
Meskipun begitu, jalannya pemerintahan Kesultanan tetap berjalan baik dan
rakyat hidup makmur.
Perombakan pimpinan pasukan
Kesultanan Palembang dilakukan untuk persiapan perang. Politik memecah belah
Belanda terus dijalankan. Sultan Husin Dhiauddin dan keluarganya yang
diasingkan ke Jawa dibujuk agar memihak Belanda. Pangeran Syarif Muhammad
yang keturunan Arab ditugaskan untuk mempengaruhi orang-orang Arab yang dekat
dengan Sultan Mahmmud Badaruddin II agar mengkhianatinya. Demikian juga dengan
orang-orang Cina. Beberapa Priyayi Palembang diperalat untuk membocorkan
rahasia pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II. Pangeran Akil dari Siak serta
Pangeran Prang Wedono dari Mangkunegaran di Jawa Tengah membantu penumpasan
perjuangan di Bangka dan penyerbuan ke Palembang.
Tanggal 8 Mei 1821 Ekspedisi
penyerbuan ke Palembang
dipimpin Mayjen
De Kock dilepas Gubernur Jendral Van der Capellen di
Batavia dengan upacara kebesaran. Armada berangkat dari Batavia pada 9 Mei 1821. Kekuatan armada
lebih dari 100 kapal perang besar/kecil dan personil lebih dari 4000 orang,
dipersenjatai lebih dari 400 meriam besar/kecil dan senjata-senjata lain. Kekuatan
pasukan penyerbuan ke Palembang
ini jauh lebih besar dari yang sebelumnya. Tanggal 13 Mei 1821
armada berhasil mencapai Mentok dan diperkuat dengan kapal-kapal dan personil
yang bertugas memblokade Palembang,
bersama-sama masuk ke sungai Musi. Pertempuran-pertempuran hebat berlangsung
antara tanggal 22 Mei 1821 sampai 24 Juni 1821 sepanjang sungai Musi
sampai Kertapati. Husin Dhiauddin membantu Belanda menujukkan jalan dan beserta
keluarganya ikut dalam armada penyerbuan ini yaitu diatas kapal Fregat Jacob
Elizabeth.
Berbeda dengan tahun 1819 waktu
penyerbuan oleh Laksamana Wolterbeek banyak korban Belanda terjadi karena meriam-meriam maling
yang ada sepanjang sungai Musi. Pada penyerbuan kali ini peta lokasi pertahanan
Sultan telah diketahui Belanda semua melalui mata-mata orang-orang Palembang sendiri,
sehingga Belanda dapat menghindar dari serangan meriam-meriam itu.
Dalam peperangan kali ini meskipun di pihak
Belanda juga banyak jatuh korban (lebih dari 300 orang) tetapi pertahanan di Benteng-benteng Palembang akhirnya bobol.
Cerucup-cerucup pancang penghalang kapal antara Pulau Kembaro dan Plaju dapat
dicabuti semua oleh pihak Belanda, menggunakan peralatan yang khusus
didatangkan dari negeri Beianda, sehingga memungkinkan sebagian besar kapal-kapal
armada masuk ke tengah Palembang.
Pertahanan Palembang yang terakhir
adalah di Benteng
Kuto Besak, armada sudah berada di depannya. Tanggal 26 Juni 1821
Jendral De Kock mengirimkan surat
kepada Badaruddin II yang isinya agar dia menyerah. Badaruddin menghadapi suatu
dilema, yaitu jika bertahan sampai titik darah penghabisan akan terjadi
pertempuran yang sangat dahsyat, yang akan mengorbankan seluruh rakyatnya dan
keluarganya. Ternyata dia menunjukkan kebijaksanaanya yaitu menyerahkan
kekuasaan Sultan kepada kemenakannya yaitu Prabu Anom putra saudaranya
Husin Dhiauddin, menjadi Sultan Ahmad Najamuddin IV. Peritiwa ini terjadi tanggal 29 Juni 1821
dan oleh Husin Dhiahuddin dilaporkan kepada De Kock.
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Sultan Mahmud Badaruddin II adalah pemimpin kesultanan
Palembang-Darussalam (1803-1819), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan
Mahmud Badaruddin. Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin
pertempuran melawan Britania dan Belanda, diantaranya yang disebut Perang
Menteng. Tahun 1821, ketika Belanda secara resmi berkuasa di Palembang,
Sultan Mahmud Badaruddin II ditangkap dan diasingkan ke Ternate.
Kesultanan Palembang mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin
II. Di dalam melawan penjajahan Belanda dan Inggris, Sultan
Mahmud Baruddin II berhasil mengatasi politik diplomasi dan peperangan kedua
bangsa tersebut. Sebelum jatuhnya Palembang dalam peperangan besar di tahun
1821, Sultan Mahmud Badaruddin II secara beruntun pada tahun 1819 telah dua
kali mengahajar pasukan pasukan Belanda keluar dari perairan Palembang.
Keperkasaan Sultan Mahmud Badaruddin II ini dinilai oleh Pemerintah Republik Indonesia
adalah wajar untuk dianugrahi sebagai Pahlawan Nasional.
Kesultanan Palembang mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin
II. Di dalam melawan penjajahan Belanda dan Inggris, Sultan
Mahmud Baruddin II berhasil mengatasi politik diplomasi dan peperangan kedua
bangsa tersebut. Sebelum jatuhnya Palembang dalam peperangan besar di tahun
1821, Sultan Mahmud Badaruddin II secara beruntun pada tahun 1819 telah dua
kali mengahajar pasukan pasukan Belanda keluar dari perairan Palembang.
Keperkasaan Sultan Mahmud Badaruddin II ini dinilai oleh Pemerintah Republik Indonesia
adalah wajar untuk dianugrahi sebagai Pahlawan Nasional.
DAFTAR
PUSTAKA
Hasnawi,Mangkualam.1992.Kesultanan
Palembang.jakarta : Pt. Sumber
Ispirasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar